• RSS
  • Facebook
  • Twitter
Comments


        IBU, TETAP IBUKU

Jam meja memekik-mekik sadis membangunkan Adi. Tangannya yang selicin pualam karena keringat bergerak spontan memukul- mukul jam yang sedaritadi memekik tanpa henti, hendak melanjutkan mimpi diatas ranjangnya yang nyaman. Namun, indera pendengaranya menangkap suatu gelombang yang tidak dapat dielakan, ya! Itu suara ibunya. Dengan suara lantang yang menggelegar, Ibu memaksa seluruh tubuh Adi tegak dalam rasa jengkel yang mendalam. Dengan segera, badan lampainya turun melayang menuju kamar mandi, sembari menanggalkan busana yang tersangkut di raganya.

“Oh Adi, ayolah, segera bersihkan kamarmu terus makan sarapanmu ubahlah kebiasaanmu ini!” Ibu berkata tegas, menatap tajam Adi yang bergerak malas “Aku sudah capek bu, cuci baju, cuci piring, bersih-bersih, semuanya sudah aku lakukan kemarin” Adi menukas, mengalihkan tatapan ke meja yang penuh lembaran kertas usang disampingnya. ”Itu kan memang kewajibanmu, sekarang lakukan apa yang Ibu katakan! Ini untuk kebaikanmu di masa depan!”Ibu berkata, mengangkat tangannya yang putih-kasar dan melambai lambaikanya.” Arggh...!” Adi menggeram, tanpa melihat ibunya, kembali kekamar, membersihkan pakaian yang  berserakan bak daun pohon berguguran.

Kembali dari kamar dengan pakaian lengkap, Adi menuju ruang makan, menyaksikan ibunya yang sedang menyiapkan makanan dengan cekatan.”Sudah selesai? Sekarang, habiskan sarapanmu, jangan buang sayurnya seperti kemarin! Jangan buat Ibu marah lagi!” Ibu menatap lelah anaknya, merasa bosan dengan sikap Adi yang tidak pernah berubah. ”Sayur lagi? Ibu kan tau ak... ”Kalimat Adi terputus  ketika melihat tangan ibunya terangkat. ”Jangan buat Ibu marah lagi Adi! Sayur itu baik untuk tubuhmu! Bayangkan jika tubuhmu kering kekurangan sayur! Ohh... Adi, Ibu akan lebih baik jika tidak terus-terusan marah kepadamu!” Ibu berkata dengan lantang, mengisyaratkan tidak ada lagi yang bisa dilakukan dengan anak semata wayangnya. Dengan tatapan tajam yang menyebalkan, Adi membalas, ”Oh ya! Dan aku akan jauh lebih baik jika tidak mendengarkan aturan-aturan ibu lagi, aku akan lebih baik jika tidak ada Ibu! ” suara tajam Adi bergema di seluruh ruangan.

Sontak, Ibu menjatuhkan lap tangan yang dari tadi dipegangnya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya, mulutnya sedikit terbuka tanpa mengeluarkan apa-apa, cahaya matanya lambat laun meredup, kecewa akan kata-kata yang terlontar dari mulut anaknya. Dengan langkah yang lemah, ibu berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Adi yang kebingungan di kursi hijau temaram seorang diri, memikirkan apa yang salah dengan ucapannya.

Adi berangkat ke sekolah dengan sunyi, tidak seperti biasanya, karena sebelum sekolah, Ibu pasti memberi beberapa nasehat sembari melepas kepergian anaknya. Tapi sekarang, tanpa nasehat, tanpa ucapan, Adi berangkat meninggalkan rumah. Tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada ibunya.Nanti.

          10 menit sebelum bel berbunyi, Adi telah sampai disekolah, tanpa banyak basa-basi, Adi langsung berjalan lurus menuju kelasnya dengan tatapan hampa, masih memikirkan apa yang telah ia lakukan terhadap ibunya. Decitan tajam sepatu Adi berbunyi ketika ia memasuki kelasnya yang luas dengan jendela dan keramik yang bersih mengkilap, langkahnya yang saat ini terburu-buru langsung menuju kursi kekar yang ada di balik meja birunya. Tubuh Adi yang kecil benar-benar tidak setara dengan kursi yang ditumpanginya. Memang benar kata Ibu, “tidak ada untungnya memilih - milih makanan, hanya akan merugikanmu...”

          “Kau kenapa Di? Kok Lesu?” Alif bertanya, menyenggol siku sahabatnya yang saat ini sedang menggores-goreskan jarinya di meja kosong. “Ayolah Di, ceritakan masalahmu padaku” Alif membujuk. Dengan tatapan penuh harap, Adi menceritakan semua yang telah terjadi di pagi hari sebelum ia berangkat sekolah. Alif adalah sahabat terbaiknya saat ini, yang benar-benar mengerti apa yang dirasakan kawannya dan dengan senang hati menawarkan bantuan ketika kawannya ini mendapat masalah. Ya! Dialah Alif, rambutnya yang bagaikan ribuan per kusut bergerak-gerak ketika mencerna setiap kata yang dikeluarkan mulut kawaannya.

          “Dan kau mau tunggu apa lagi? Segera pergi menuju rumahmu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, kepada ibumu!” Alif langsung memberikan usul kepada kawannya dengan semangat yang menggebu-gebu. “Kau bermaksud aku melakukannya sekarang?” Adi membalas Alif dengan ekspresi sedikit kebingungan. “Ondeh Mandeh, pulang sekolah la.. Tak mungkin la kau melakukannya sekarang” logat  Medan dengan sedikit kosakata Padang diucapkannya dengan fasih.

“Ya! Kau benar! Aku harus minta maaf, tidak seharusnya aku berkata seperti itu kepadanya”, rona merah mulai muncul diwajahnya, dengan semangat yang mulai kembali, Adi langsung menyalami kawannya. “Hahaha! Itu baru kawanku!” Alif mengoceh, menatap kawannya hangat.

          Bel pulang menderu nyaring, membuat seluruh siswa bergerak riang menuju rumah masing-masing, sebagian bergerak ke tempat lain, mencari sesuatu yang menyenangkan, mengingat besok adalah hari Minggu. “Ingat kataku, minta maaf padanya dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali”Alif berkata kepada Adi, seolah-olah Adi telah melupakan apa yang seharusnya dilakukan.” Iya.. Iya, bawel!” Adi balik berkata dengan dengusan lemah. Dipersimpangan depan sekolah, mereka berpisah, bergerak kearah yang bertolak belakang satu sama lain.

          Adi langsung bergerak cepat menyusuri gang-gang sempit menuju rumahnya, ini adalah yang ketiga kalinya Adi melewati jalan sempit berkelok-kelok, karena jalan ini adalah semacam jalan pintas menuju rumahnya. Dengan geraknya yang terburu-buru, Adi berusaha melirik pohon mangga yang menurutnya memiliki sedikit kemiripan dengan pohon bergerak yang sering dilihatnya di tayangan kartun setiap minggu. 15 menit berlalu, akhirnya Adi mencapai rumahnya yang asri, dengan nafas terengah-engah.
          Adi mencoba mengetuk pintu kayu rumahnya yang telah ditumpuki debu disetiap sudut ukirannya. Tidak mendengar jawaban yang diharapkan, Adi mengambil kunci cadangan di tempat yang tidak akan pernah diketahui orang lain. ”Assalamu’alaikum... Bu?” Adi bergerak malu menuju dapur, tempat ibunya biasa bereksperimen dengan sayur-sayur yang sangat dibenci Adi. ”Ibu..?” sedikit ekspresi keterkejutan tampil diwajah Adi karena tidak mendapatkan ibunya disana, tanpa menunggu lebih lama lagi, Adi langsung menuju kamar ibunya, berharap beliau ada disana. Raut wajah yang benar-benar terkejut bertengger diwajahnya ketika tidak mendapatkan ibunya dimana-mana disetiap sisi ruangan. Berharap ibunya sedang pergi kesuatu tempat dan membawa ponsel pinknya, Adi mengambil ponsel pribadinya dan memencet kencang setiap tombol seraya menempelkannya ke salah satu telinga kecilnya. Tetapi yang diharapkan benar-benar tidak terjadi, dering ponsel ibu malah terdengar dari kamar ibunya sendiri. ”Ibu tidak membawa ponselnya!” Adi terkesiap kebingungan. Terlalu dalam tenggelam dalam fikirannya yang lebih mirip labirin saat ini, tubuh kurus Adi melayang jatuh kesebuah  jalinan benda empuk dibelakangnya...

          Ditempat lain, ibu Adi terlihat kesepiaan di jalanan melingkar yang benar-benar dipadati oleh orang-orang yang hilir mudik disekitarnya. Sebuah tangan kekar berusaha menariknya keluar dari kerumunan orang dengan secepat kilat langsung membawanya ke sebuah mobil penuh karat. Teriakan Ibu Adi bergema, sangat keras dan semakin keras, tetapi tidak ada yang menanggapi, hingga hilang begitu saja...

          “Ibuu!!!” Adi berteriak, suaranya bergema di ruang tamu, dengan raga yang basah karena keringat, Adi segera duduk sembari mengumpulkan ingatannya. ”Aku bermimpi” Adi bergumam, menyadari bahwa dia tertidur di sofa empuk dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Sambil melihat jam dinding, Adi berusaha memperhatikan sekelilingnya, berharap ibunya telah kembali, walaupun dia mengetahui ibunya masih tidak berada dirumah. Adi menyeret tubuhnya ke kamar mandi, membersihkan tubuh dan beribadah, meratap sedih akan perbuatan yang telah dilakukannya.

Betapa saat itu Adi sadar, bahwa dia membutuhkan seorang Ibu, penyesalannya yang teramat sangat membuat wajahnya tertunduk dalam ketakutan akan kehilangan sosok yang selama ini telah mengaturnya. “Aku  harus mencari Ibu!” Suara Adi yang penuh tekad menjadi penutup do’a yang sedaritadi dihaturkan kepada-Nya.
          Berbekal beberapa foto kecil Ibunya, Adi bertanya kepada orang-orang dijalanan, berharap seseorang pernah bertemu atau melihatnya di suatu tempat. Setitik harapan akan keberadaan Ibunya benar-benar menjadi sesuatu yang paling dibutuhkannya melebihi apapun.

“Hooi Adi!” seseorang berteriak saraya melambaik-lambaikan tangan kepadanya. “Bagaimana? Sudah selesai kan urusanmu?” Alif berkata kepadanya. “Ibuku... Dia menghilang” Adi menjawab lesu, tidak mampu menatap sahabatnya, malu atas perbuatannya. ”Olala!! Apa yang terjadi?” Alif terkejut mendengar jawaban Adi. Sambil berjalan pelan, Adi menceritakan semua yang dirasakannya, hingga upaya yang dia lakukan untuk mencari Ibunya.”Aku akan membantumu!” Alif berkata ringan tanpa beban. “Oh Alif, kau tak mungkin aku libatkan dalam kasusku sendiri” Adi menolak tawaran Alif. ”Di. Kau tahu, sejak kebakaran 2 tahun yang lalu. Aku telah kehilangan kedua orang tuaku. Ketika aku sedang menikmati pisang goreng lezat buatan Ibuku di teras rumahku yang sejuk dan tiba-tiba.... tiba-tiba...” Alif tidak mampu melanjutkan kata-katanya, seluruh tubuhnya nyaris bergetar mengingat deteil peristiwa yang dialaminya saat itu. “ Dan aku tidak mau kau merasakan apa yang kurasakan saat itu. Setidaknya, aku bisa mencegahnya” Suara Alif terdengar mantap dipenghujung kalimatnya. ”Oh Alif...Kau memang sahabat terbaikku!” Adi tidak mampu menahan haru diwajahnya, setetes air asin jatuh di penghujung matanya yang coklat, mengalir lurus dipipinya, meninggalkan jejak basah yang perlahan mulai mengering. “Kita tak bisa berlama-lama disini, kita harus menemukannya!” Alif berkata, bagaikan akan melakukan pekerjaan terpenting dalam hidupnya. “Tentu saja!” Adi balas berkata, ujung bibirnya tertarik kebelakang, meninggalkan garis tipis melengkung diwajahnya.

          Detik berganti menit, menit berganti jam, mereka lalui dengan pertanyaan yang sama kepada setiap orang yang kebetulan mendekat kesekitar mereka. Beberapa orang berkata baru saja melihat wanita yang sedang mereka cari, walaupun semuanya hanya melihat seseorang yang sedikit mirip dengan Ibu Adi dan hal itulah yang paling mengesalkan bagi mereka. Dengan langkah yang letih, mereka setuju untuk duduk disebuah bangku kayu lusuh, yang bagian bawahnya telah subur ditumbuhi lumut.

          Tidak sampai 10 menit, mereka kembali melanjutkan pencarian terhadap orang yang sangat memberikan pengaruh terhadap kehidupan, orang yang berjuang tanpa kenal lelah, memberi tanpa minta balas budi yang membuat seluruh manusia didunia hadir dalam kelebihannya masing-masing. Ibu.

“Adi, lihat sana!” Alif menunjuk sebuah taman berjalan mengitarinya, mereka melewati sebuah bangku kecil, tempat seseorang meringkuk ketakutan disudutnya. “Hmm.. maaf, anda kenapa?” Adi berkata lembut kepada orang yang sekarang sedang berusaha menampakkan dirinya. ”Ibu!!” Adi terkesiap, menyaksikan orang yang dicari-carinya berada didepannya sendiri. “Adi!  Apa yang kamu lakukan disini?” Ibu terkejut, melihat Adi berurai air mata didepannya.

“Maafkan Adi bu, aku adalah anak paling tidak berguna di dunia...” Adi memelankan suaranya, merasa malu akan apa yang telah ia lakukan. “Apa yang membuatmu begini?” Ibu bertanya, “Ini Bu...” Adi menaruh tangan didadanya. “Perasaanku mengatakan bahwa aku telah sangat keterlaluan kepada Ibu... Aku minta maaf bu”. Sambil memeluk anaknya, Ibu berkata “ Tak ada yang salah nak, Ibu yang terlalu keras mendidikmu, maafkan Ibu” Ibu membalas keluhan Adi. ”Lalu apa yang Ibu lakukan disini?” sambil melepaskan ibunya dengan lembut.

          Wajah ibu  berubah ragu saat akan menjawab pertanyaan anaknya. “Adi, kamu tahu, semenjak kepergian ayahmu, keuangan keluarga kita jauh menipis, tidak ada cara lain, selain meminta pinjaman dari bank, fikiran ibu tidak lebih kepada apa yang kamu ucapkan tadi pagi, kata-kata itu benar-benar tajam bagi Ibu, kembali dari bank, ibu langsung membeli beberapa makanan untuk makan malammu hari ini, hingga ibu sadar bahwa uang yang Ibu pinjam sudah tidak ada. Ibu dirampok. Ibu hanya bisa meringkuk disini memikirkan betapa bodohnya Ibu” Ibu berkata sedih, menatap sepatunya yang kotor.

“Tidak ada yang perlu dipikirkan bu, sekarang aku disini, aku berjanji akan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya, semuanya akan kita lakukan bersama-sama” Adi berkata mantap, melirik Alif yang tersenyum lebar melihat pertemuan Ibu dan anak ini. “Oh Adi, ibu harap kamu akan selalu seperti ini selamanya” Ibu menatap penuh harap kepada Adi. “Dan kamu Alif, terimakasih telah menjadi sahabat terbaik untuk Adi. Kamu bagaikan kakak  yang selalu menjaganya. Kamu juga telah memberi cahaya kecil dalam keluarga kami “Ibu berkata lembut kepada Alif, yang saat ini merasakan hangatnya cinta kasih seorang Ibu kepadanya. “Baiklah! Semuanya sudah selesai, ayo Bu, kita pulang” Adi tersenyum penuh arti, sambil mendongak kearah langit sore hangat bercampur warna jingga temaram.

Dengan senyum lebar tanpa beban, mereka pulang menuju rumah yang serasa jauh berbeda dengan rumah dahulu dan berharap. Semua akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Semoga. []
                                                                                      @RidhoFadhlurrahman

Categories:

23 Responses so far.

  1. Unknown says:

    wuiddiihhh... sangat menyentuh!

  2. kebiasaaan upa ado di paragrph I
    TT

  3. Mkasih lah singgah upa, Dho iyo pulo sbannyo mah, hehe

  4. Bisuak samo2 wak k Korang Singgalang, terbit an cerpen ridho t di koran.
    baa gak ti pak ngah tu?

  5. serasa pernah baca dho..
    lomba cerpen waktu kelas X kan??
    Hhahaha..

  6. Unknown says:

    two thumbs up dho (y)

  7. Mkasih lah singgah sanak2 sadonyo.. :D

  8. Haha, iya mi, repost karya lama, tapi gpapa la, ga repost punya orang lain kok,hehe

  9. mantap dho
    bisa jadi pelajaran bagus

  10. Unknown says:

    A GO ?
    hahahaha

    indak dho
    mantap critony dho :D

  11. Unknown says:
    Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
  12. Unknown says:

    Kata-kata ny nyentuh dho..:)

  13. akhirnyaa, kesampaian juga nyiapin baca cerpennya..
    menyentuh dan mengharukan..
    Semoga yang biasanya suka bandel bandel sama orang tuanya bisa sadar,kalau sebenarnya kita ga akan bisa hidup tanpa Ibu..
    .. mereka cuma mau yang terbaik buat kita.. ;')_

  14. jangan pernah berhenti berkarya

  15. Unknown says:

    Seperti yang di katakan saudari diva..
    akhirnya kesampaian juga baca cerpen ini sampai habis...
    mantap do...!!!
    Sedikit saran do, tukar judulnya jadi judul yang agak buat penasaran.. heheh
    Idenya keren beudht...

    secara keseluruhan Luar biasa...

Leave a Reply