• RSS
  • Facebook
  • Twitter
Comments



PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK SIAPA ?

            ‘Pendidikan Karakter’, sebenarnya bukan barang baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Karena memang sejak dulu, hakikat pendidikan adalah untuk membentuk karakter siswa. Pendidikan karakter dianggap mampu mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang cerdas, kompetitif dan berkualitas. Hal inilah yang membuat pendidikan karakter seolah sesuatu yang baru dan mendesak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran.

Di sekolah, slogan ‘Pendidikan Karakter’ selalu disebut disetiap upacara dan hari-hari besar pendidikan nasional, dan semua siswa bisa menjawab pengertian pendidikan karakter baik dalam hal kejujuran, disiplin dan sopan santun dengan tepat. Tetapi, bagaimana dengan karakter sesungguhnya yang ada didalam diri mereka? Belum tentu, karena masih banyak orang tua mengeluh tentang sikap anak mereka di rumah, atau guru yang mengeluh tentang buruknya perilaku siswa disekolah.

Sayangnya, pendidikan karakter yang diharapkan menjadi titik acuan untuk proses pendidikan yang lebih baik telah rusak. Bukan karena pelajar, melainkan karena pengajar, demi membantu kelulusan anak-anak yang dianggap tidak mampu melewati batas kelulusan, mereka rela memberika bocoran jawaban UN kepada siswa. Bahkan membeli kunci jawaban UN berharga jutaan, untuk pujian tinggi dengan tingkat kelulusan 100%. Celakanya, praktik ini terus berulang setiap tahun.

Praktik penyelewengan dan kecurangan UN adalah cerminan bahwa kejujuran yang selama proses pendidikan ditanamkan di setiap individu siswa oleh tenaga pendidik di lingkungan sekolah, telah luntur, rusak dan terabaikan. Hilangnya nilai-nilai kejujuran dan dapat dipercaya adalah suatu bentuk pengkhianatan terhadap karakter positif yang telah berusaha ditanamkan terhadap siswa.

Jika karakter positif yang berusaha ditanamkan kepada siswa selama bertahun-tahun pendidikannya dirusak oleh perilaku guru sendiri, maka untuk siapa sebenarnya pendidikan karakter dilaksanakan? Untuk apa sebenarnya karakter dibangun didalam diri seorang siswa? Bukankah itu hanya pekerjaan yang sia-sia?

Bagaimana mungkin pendidikan karakter dapat berjalan, jika pada akhirnya guru itu sendiri yang merusak karakter siswa. Bagaimana mungkin seorang guru menjadi motivator, jika akhirnya mereka lebih suka membombardir siswa dengan kekurangan daripada memuji kelebihan siswa.

Tentu, hal ini menjadi bumerang bagi bangsa Indonesia, bahwa generasi muda yang akan melanjutkan dan meluruskan bangsa ini telah mulai rusak sebelum sempat berperan aktif bagi negara.

Suatu proses dalam pendidikan adalah hal yang sangat vital, karena proses pendidikan tidak dapat diulang. Jika proses tidak berjalan dengan baik, maka karakter yang dibangun beserta kesalahan-kesalahan akan terus melekat dan butuh waktu lama untuk memperbaikinya kembali, layaknya sebuah rumah, jika pilar-pilar didalam rumah itu goyah dan tidak seimbang, maka rumah akan roboh dan hancur, tetapi jika pilar itu kuat, seimbang dan tertata dengan rapi, maka rumah akan berdiri dengan kuat dan kokoh.

Masa depan generasi muda adalah masa depan bangsa Indonesia. Masa depan Indonesia bergantung pada karakter yang dibangun dengan baik. Indonesia akan tetap berjaya jika dapat menjalankan norma, nilai dan aturan-aturan yang telah diberlakukan, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga karakter akan terbangun bersamanya.

Sudah seharusnya seluruh lapisan masyarakat ikut berperan aktif dan turut serta mewujudkan terciptanya bangsa Indonesia yang berkarakter. Generasi yang kritis, disiplin, aktif dan berkualitas adalah kunci untuk mangangkat harkat dan martabat bangsa Indonesia yang kian turun. Jangan biarkan Pendidikan Karakter bernasib sama dengan Pendidikan Moral Pancasila, yang tidak berjalan karena tidak diaplikasikan dengan baik.

Oleh karena itu, diperlukan kerjasama yang nyata antara masyarakat dan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan karakter yang sesungguhnya. Dimulai dari menerapkan kejujuran sedari dini, membiasakan hidup displin, memperkuat interaksi sosial dan patuh terhadap aturan dan norma yang berlaku ditengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, pendidikan karakter di Indonesia dapat dijadikan acuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia serta menghasilkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang kritis, cerdas dan berkualitas.

                                                                                                           @Ridho Fadhlurrahman


Ini  tulisan yang udah lama setahun yang lewat, buat lomba sih sebenarnya, tapi iseng-iseng dipost balik, mana tau ada yang butuh. :)

Categories:

4 Responses so far.

  1. Unknown says:

    Yang lebih penting tuh pendidikan karakter di rumah, kalau karakter dan moral dari rmh na dah jelek, apalagi di dunia luar???

  2. Unknown says:

    sorry do, numpang komen se nyo. ndk sempat baco..

  3. Unknown says:

    satuju wak do..
    like (y)

  4. nice do...(y) pendidikan karakter paling bgus utk generasi muda.....

Leave a Reply