PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK SIAPA ?
‘Pendidikan Karakter’,
sebenarnya bukan barang baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Karena memang
sejak dulu, hakikat pendidikan adalah untuk membentuk karakter siswa.
Pendidikan karakter dianggap mampu
mewujudkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia yang cerdas, kompetitif dan
berkualitas. Hal inilah yang membuat pendidikan karakter seolah sesuatu yang
baru dan mendesak untuk diterapkan dalam proses pembelajaran.
Di sekolah, slogan ‘Pendidikan Karakter’ selalu disebut disetiap
upacara dan hari-hari besar pendidikan nasional, dan semua siswa bisa menjawab
pengertian pendidikan karakter baik dalam hal kejujuran, disiplin dan sopan
santun dengan tepat. Tetapi, bagaimana dengan karakter sesungguhnya yang ada
didalam diri mereka? Belum tentu, karena masih banyak orang tua mengeluh
tentang sikap anak mereka di rumah, atau guru yang mengeluh tentang buruknya
perilaku siswa disekolah.
Sayangnya, pendidikan karakter yang diharapkan menjadi titik acuan
untuk proses pendidikan yang lebih baik telah rusak. Bukan karena pelajar,
melainkan karena pengajar, demi membantu kelulusan anak-anak yang dianggap tidak
mampu melewati batas kelulusan, mereka rela memberika bocoran jawaban UN kepada
siswa. Bahkan membeli kunci jawaban UN berharga jutaan, untuk pujian tinggi
dengan tingkat kelulusan 100%. Celakanya, praktik ini terus berulang setiap
tahun.
Praktik penyelewengan dan kecurangan UN adalah cerminan bahwa
kejujuran yang selama proses pendidikan ditanamkan di setiap individu siswa
oleh tenaga pendidik di lingkungan sekolah, telah luntur, rusak dan terabaikan.
Hilangnya nilai-nilai kejujuran dan dapat dipercaya adalah suatu bentuk
pengkhianatan terhadap karakter positif yang telah berusaha ditanamkan terhadap
siswa.
Jika karakter positif yang berusaha ditanamkan kepada siswa selama
bertahun-tahun pendidikannya dirusak oleh perilaku guru sendiri, maka untuk
siapa sebenarnya pendidikan karakter dilaksanakan? Untuk apa sebenarnya
karakter dibangun didalam diri seorang siswa? Bukankah itu hanya pekerjaan yang
sia-sia?
Bagaimana mungkin pendidikan karakter dapat berjalan, jika pada
akhirnya guru itu sendiri yang merusak karakter siswa. Bagaimana mungkin
seorang guru menjadi motivator, jika akhirnya mereka lebih suka membombardir
siswa dengan kekurangan daripada memuji kelebihan siswa.
Tentu, hal ini menjadi bumerang bagi bangsa Indonesia, bahwa
generasi muda yang akan melanjutkan dan meluruskan bangsa ini telah mulai rusak
sebelum sempat berperan aktif bagi negara.
Suatu proses dalam pendidikan adalah hal yang sangat vital, karena
proses pendidikan tidak dapat diulang. Jika proses tidak berjalan dengan baik,
maka karakter yang dibangun beserta kesalahan-kesalahan akan terus melekat dan
butuh waktu lama untuk memperbaikinya kembali, layaknya sebuah rumah, jika
pilar-pilar didalam rumah itu goyah dan tidak seimbang, maka rumah akan roboh
dan hancur, tetapi jika pilar itu kuat, seimbang dan tertata dengan rapi, maka
rumah akan berdiri dengan kuat dan kokoh.
Masa depan generasi muda adalah masa depan bangsa Indonesia. Masa
depan Indonesia bergantung pada karakter yang dibangun dengan baik. Indonesia
akan tetap berjaya jika dapat menjalankan norma, nilai dan aturan-aturan yang
telah diberlakukan, baik tertulis maupun tidak tertulis, sehingga karakter akan
terbangun bersamanya.
Sudah seharusnya seluruh lapisan masyarakat ikut berperan aktif
dan turut serta mewujudkan terciptanya bangsa Indonesia yang berkarakter. Generasi
yang kritis, disiplin, aktif dan berkualitas adalah kunci untuk mangangkat
harkat dan martabat bangsa Indonesia yang kian turun. Jangan biarkan Pendidikan
Karakter bernasib sama dengan Pendidikan Moral Pancasila, yang tidak berjalan
karena tidak diaplikasikan dengan baik.
Oleh karena itu, diperlukan kerjasama yang nyata antara masyarakat
dan pemerintah untuk mewujudkan pendidikan karakter yang sesungguhnya. Dimulai
dari menerapkan kejujuran sedari dini, membiasakan hidup displin, memperkuat
interaksi sosial dan patuh terhadap aturan dan norma yang berlaku ditengah-tengah
masyarakat. Dengan demikian, pendidikan karakter di Indonesia dapat dijadikan
acuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia serta menghasilkan
Sumber Daya Manusia Indonesia yang kritis, cerdas dan berkualitas.
@Ridho Fadhlurrahman
Ini tulisan yang udah lama setahun yang lewat, buat lomba
sih sebenarnya, tapi iseng-iseng dipost balik, mana tau ada yang butuh. :)






Yang lebih penting tuh pendidikan karakter di rumah, kalau karakter dan moral dari rmh na dah jelek, apalagi di dunia luar???
sorry do, numpang komen se nyo. ndk sempat baco..
satuju wak do..
like (y)
nice do...(y) pendidikan karakter paling bgus utk generasi muda.....